//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js

Jagawana.com

This is how blogs should be.

Sebelum Tewas, Fitri Yanti Diperkosa Bergilir Oleh Paman dan 4 Pelaku

Senyuman Fitri Yanti Faidah (12) masih terbayang jelas dibenak ayahnya, Muhammad Taufik. Ternyata senyuman itu menjadi yang terakhir sebelum ditemukan tak bernyawa di kolam bekas galian di lorong RT 07 RW O3 Kelurahan Talang Keramat Kecamatan Talang Kelapa, Rabu (20/1) sekitar pukul 15.00 WIB lalu.

Pai, sapaan akrab Fitri Yanti Faidah menebar senyum terakhir Ketika hendak mengantarkan adiknya ke sekolah menggunakan kendaraan bermotor. Disaat itu, Pai memakai baju berwarna kuning. Baju berwarna sama juga dikenakan Taufik ketika itu.

“Nak, kok pakai baju warna kuning juga?” tanya Taufik kala itu.

“Biar Pak, biar kompak,” jawab Pai singkat dibarengi senyuman kemudian pergi menghantarkan sang adik mengendarai motor Honda Beat.

Tak dikira, senyuman dan perkataan itu menjadi terakhir dari anak pertama pasangan M Taufik-Nining Marlis yang dilihat. Dan warna kuning seolah merentetkan tanda-tanda bagi Taufik atas anak kesayangannya tersebut.

Taufik merasa ada yang aneh sebelum putrinya meninggal. Hari sebelum Pai ditemukan tewas, Taufik tengah bekerja memotong rumput di sebuah lahan.

Ketika mendapatkan jatah mesin pemotong rumput, ia mendapati mesin berwarna kuning. Demikian juga ketika mesin pemotong rumput mengalami kerusakan, juga didapati tali plastik berwarna kuning.

Warna kuning masih terus berlanjut ketika meminjam sepatu boot untuk bekerja memotong rumput. Sepatu yang digunakan juga berwarna kuning.

“Kemudian Pai mau mengantarkan adiknya, saya pakai baju kuning dia juga warna kuning. Ada apa dengan warna ini? Senyuman dan perkataan itulah yang masih terbayang jelas dibenak saya,” ujarnya ketika ditemui Tribun Sumsel di rumah duka di lorong Sekolah RT 27, Talang Jambi.

Kini, Taufik sudah mengetahui siapa pelaku dari pembunuh siswi SMPN 41 Kenten itu. Adalah diantaranya adiknya sendiri, Somad. Selama ini Somad tinggal serumah.

Taufik bingung, tak percaya dan terkejut. Dia tidak menyangka adik kandungnya tega melakukan perbuatan keji kepada keponakannya. Selain Somad, ada juga adik misan juga turut andil serta orang-orang yang tak asing bagi Taufik.

Padahal ketika jasad Pai ditemukan kemudian dibawa ke rumah sakit menggunakan ambulans, ia dan Somad berada di kendaraan tersebut. Malah Somad juga menangis. Ketika siswi SMP itupun dikabarkan hilang, Somad juga ikut mencari. Sama sekali tak ada yang aneh.

Kecurigaan timbul ketika Somad bereaksi atas ucapan dan doa yang diungkapkan Taufik ketika di dalam ambulans waktu itu. Bicara Somad mencurigakan.

“Saya menangis sambil bilang, ‘Mudah-mudahan yang membunuh dibukakan pintu hatinya. Saya sudah ikhlas’. Ketika dengar kata iklas itu, Somad kemudian bilang ‘Iklas kan?’ Disitulah saya berdetak,” kata dia.

Sebenarnya, Taufik merasa bersyukur dengan kehadiran Somad tinggal bersamanya selama ini. Sebab Somad dianggap sangat baik, tidak pernah ada masalah dalam hubungan keluarga, dan mengerti agama. Apalagi, Somad merupakan guru mengaji bagi Fitri Yanti Faidah dan lingkungan sekitar.

Hingga saat inipun, ia tidak tahu apa motif Somad tega melakukan perbuatan tersebut. Meski begitu, perbuatan melanggar hukum harus ditegakkan. Taufik menyerahkan sepenuhnya kepada aparat penegak hukum atas perbuatan adik kandungnya itu.

“Hukum harus ditegakkan. Kami serahkan kepada pihak yang berwajib,” katanya dengan mata berkaca-kaca.

ANAK YANG PENDIAM

fitri_yanti_faidahGuru SMP Negeri 41 Palembang terkejut mendengar kabar siswanya ditemukan tewas di kolam galian Talang Keramat, Rabu lalu. Mereka berduka cita atas musibah yang dialami.

Fitri Yanti Faidah atau akrab disapa Pai, dikenal disekolahnya sebagai murid yang pendiam, tidak banyak tingkah dan cenderung pemalu.

“Anaknya malu, pendiam juga. Kalau ke kantin atau kemanapun bareng sama teman-teman. Wajar ya karena mungkin masih baru masuk SMP,” kata Nurmala, wakil kepala SMP Negeri 41 Palembang ditemui Tribunsumsel.com, Selasa (26/1/2016).

Pai tercatat sebagai siswa SMP Negeri 41 terbuka. Jam belajarnya siang hari. Ketika kejadian pembunuhannya, kala itu ia tidak belajar lantaran tengah libur. Ini terkait renovasi ruang kelas belajar.

“Kemarin itu memang tengah libur. Karena kan ruang sekolah direnovasi jadi yang kelas terbuka bergantian, ada yang masuk dan libur. Hari inipun teman-teman sekelasnya pun tengah libur, renovasi belum selesai,” tambah dia.

DIPERKOSA SECARA BERGILIR

Tak hanya mengungkap dan menangkap pelaku lain, penyidik juga menemukan fakta lain. Sebelum dibunuh, korban Fatriatul Faidah (12) terlebih dahulu disekap dan diperkosa secara bergilir oleh pamannya sendiri, Somad (34) dan empat pelaku lain.

Kapolsek Talang Kelapa Banyuasin Kompol P Arianto mengungkapkan, dari keterangan para tersangka, korban sengaja diculik saat mengantar adiknya sekolah, Selasa (19/1). Kemudian, korban disekap dan diikat di rumah kosong tak jauh dari rumahnya. Melihat tubuh korban yang mulus dan tak berdaya, para tersangka memperkosanya secara bergilir.

Biadabnya, ide perkosaan tersebut muncul dari tersangka Somad yang tak lain adalah paman korban dan bekerja sebagai guru ngaji di kampungnya.

“Tadinya memang hanya mau mengambil motor, tapi ternyata korban juga diperkosa bergilir. Itu idenya dari tersangka Somad. Somad juga yang pertama kali memperkosanya,” ungkap Arianto, Senin (25/1).

Saat diperkosa, korban berteriak dan melawan. Namun, dipukul oleh tersangka Toni sehingga membuat siswi kelas I SMP itu kembali pingsan.

“Tersangka A yang masih berusia 13 tahun juga ikut memperkosa, dia mendapat giliran terakhir,” ujarnya.

Dalam keadaan pingsan dan penuh luka lebam di sekujur tubuhnya, korban dibuang ke kolam galian. Setelah itu motor korban jenis Honda Beat merah nomor polisi BG 4620 ZQ dijual ke kawasan Kenten Palembang seharga Rp 2 juta.

Dari hasilnya, tersangka Somad mendapat Rp 750 ribu, Toni menerima Rp 1 juta, tersangka A dapat bagian Rp 50 ribu, serta tersangka Rinto dan Rudi sisa pembagian.

“Para tersangka menikmati uang penjualan motor korban. Saat ini mereka masih jalani pemeriksaan,” pungkasnya.

Diketahui, jasad Fatriatul Fahidah atau kerap dipanggil Fatri (12) ditemukan di kolam galian di Jalan Talang Keramat, Lorong Perjuangan, Kelurahan Talang Keramat, Kecamatan Talang Kelapa, Kabupaten Banyuasin, Sumsel, Rabu (20/1) pukul 15.00 WIB. Dugaan saat itu, siswi kelas I SMP itu jadi korban begal karena sepeda motornya jenis Honda Beat hilang. Saat dilakukan pengangkatan, dari mulut dan hidung korban yang tinggal sekitar lokasi penemuan itu mengeluarkan darah. Sejumlah luka lebam juga ditemukan di tubuhnya.

Beberapa hari berselang, polisi meringkus dua tersangka, yakni Somad (34) dan Toni (30). Somad adalah paman korban. Dia menjadi dalang perampokan, pembunuhan, dan perkosaan terhadap korban karena terbelit utang sabu sebesar Rp 750 ribu.

Dari hasil pengembangan, tiga tersangka lain berhasil diringkus. Mereka adalah Rinto (27), Rudi (17) dan satu pelaku yang masih berusia 13 tahun berinisial A.

Sumber: Tribun Sumsel dan Merdeka.

Klarifikasi

Foto-foto yang tercantum di website ini sebagian hanyalah berfungsi sebagai ilustrasi dan tidak ada hubungannya dengan berita yang dimuat. Bila anda keberatan terhadap suatu foto, silakan hubungi kami.
Blog nirlaba ini diberdayakan oléh idCloudHost, server berbasis SSD Linux performa tinggi | Testimonial | Hubungi Kami