//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js

Jagawana.com

This is how blogs should be.

Pertemuan (Yang Anéh)

Pertemuan saya pertama dengannya terjadi di satu soré hari Ahad. Saya mengendarai motor Honda Win dinas kakak ipar. Ketika saya menanyakannya pada pihak Pesantrén tempat ia mondok, saya diminta untuk menunggu. Kemudian ia keluar menemui saya.

“Ada perlu apa ya?” tanyanya singkat tanpa menanyakan nama saya.

Saya mengenalkan diri tak urung. Itu sebuah pertemuan yang anéh. Kami berdua berdiri di téras Pesantrén tanpa saling memandang. Saya menyampaikan pesan dari organisasi saya yang bermaksud silaturahim dengan anak-anak muda pesantrénnya.

Pertemuan itu terjadi kurang lebih 5 menit. Saya pamit.

Sepekan berjalan, saya mencoba meréka-réka wajahnya. Namun tak pernah utuh. Saya hanya tahu namanya saja.

Dalam pertemuan antar organisasi, masing-masing pihak menyampaikan beberapa program yan sekiranya mungkin bisa dikerjakan bersama. Usai acara, saya menemuinya lagi. Ia ditemani oléh seorang teman perempuannya.

“Ada apa?” tanyanya.

Saya memberikan sebuah surat sampul putih padanya. Saya tak berani menatap wajahnya. “Jika berkenan, silakan kiranya membacanya.”

Itu surat yang saya tulis 3 hari sebelumnya. Isinya singkat: “Bersediakah menjadi istri saya?”

3 hari berjalan, saya meneléfon pihak Pesantrén meminta berbicara dengannya. Kalimat pertama yang dia katakan, “Apa pertimbangannya?” Dia menanyakan hal itu pada saya.

Saya terdiam cukup lama ketika itu. Saya tak punya jawabannya. “Jika bersedia, maka saya akan langsung menghadap ayahmu…” ujar saya singkat.

Ada beberapa kata yang terucap darinya setelah itu. Yang paling saya ingat adalah ia mengatakan, “Beri saya waktu 2 pekan…”

Saya menunggu.

2 pekan setelah itu, saya menemui kedua orang tuanya, menyatakan maksud saya untuk meminta putri meréka.

10 tahun setelah hari itu dan 3 orang anak di antara kami, saya bertanya padanya, “Apa pertimbangan dulu menerimaku?”

Ia hanya tertawa, “Kau baru menanyakannya padaku? Apa pertimbangan memintaku?”

Saya hanya nyengir. Tak bisa menjawabnya. Atau mungkin tak mau menjawabnya.

Setelah 10 tahun lebih pernikahan, kau mungkin bisa kembali menanyakan cinta padanya: bertambah cintakah kau padanya, atau sudah mulai kehilangan getar?

Sumber: Islampos.

Klarifikasi

Foto-foto yang tercantum di website ini sebagian hanyalah berfungsi sebagai ilustrasi dan tidak ada hubungannya dengan berita yang dimuat. Bila anda keberatan terhadap suatu foto, silakan hubungi kami.
Blog nirlaba ini diberdayakan oléh idCloudHost, server berbasis SSD Linux performa tinggi | Testimonial | Hubungi Kami